Pro Kontra Rangkaian Kereta Khusus Wanita (KKW)

Pro Kontra Rangkaian Kereta Khusus Wanita (KKW)

Rangkaian Kereta Khusus Wanita (KKW) diperkenalkan oleh PT Kereta Commuter Jabodetabek (Sekarang jadi PT Kereta Commuter Indonesia / KCI) pada 1 Oktober 2012 sebagai respon atas beberapa laporan pelecehan seksual di tempat-tempat publik, termasuk KRL, bahkan sempat ada rangkaian KRL khusus wanita yang beroperasi di Jalur Bogor – Jakarta Kota, namun operasionalnya dihentikan pada akhir 2013.

Rangkaian Kereta Khusus Wanita terletak pada rangkaian paling depan dan rangkaian paling belakang dalam satu set KRL, ditandai dengan stiker tulisan Kereta Khusus Wanita berwarna pink / ungu. Setelah peluncuran KKW, banyak timbul pro dan kontra yang tidak habis dan selalu jadi bahasan panjang oleh pengguna / pengamat KRL.

Bagi yang pro KKW, mereka beranggapan bahwa dengan adanya KKW, pelecehan seksual terhadap wanita bisa diminimalisir, untuk kaum wanita, naik KRL jadi tidak perlu was-was, bisa naik kereta dengan tenang karena dalam satu rangkaian berisi wanita semua,

Bagi yang kontra, beranggapan bahwa dengan adanya KKW tetap ada laporan pelecehan seksual walaupun tidak sebanyak dulu sebelum ada KKW, namun mereka juga sepakat dengan adanya KKW tidak terlalu banyak membantu memecahkan masalah, malah muncul masalah baru. Masalah egoisme terutama, belakangan sering terdengar bahwa perempuan di KKW ganas-ganas. untuk manula, ibu hamil, ibu menggendong balita, rangkaian KKW sangat tidak manusiawi karena sangat jarang yang mau memberikan tempat duduk, berbeda dengan rangkaian kereta campuran yang memang penumpangnya lebih peka dan bisa menghargai.

Pro dan kontra KKW sebetulnya bukan masalah serius menurut penulis sendiri, karena masih banyak masalah yang lebih serius dan harus segera dibenahi, contohnya perjalanan KRL yang sering terlambat, atau untuk warga yang naik KRL dari Cibinong / Nambo, malah lebih membutuhkan atap peron dibanding membahas kereta khusus wanita.

Hanya sedikit tips saja dari Kami, jadilah penumpang cerdas, kita tidak akan rugi memberikan tempat duduk kita kepada yang lebih membutuhkan, toh kita sama-sama penumpang, sama-sama bayar, mau naik di rangkaian KKW ataupun rangkaian campuran, tunjukan pada semua orang bahwa penumpang kereta di Indonesia bisa menghargai dan saling menghormati. Untuk kaum Adam, jadilah laki-laki yang laki, yang tidak pernah melakukan hal negatif kepada kaum hawa..

Untuk wanita, agar terhindar dari pelecehan saat naik KRL di rangkaian campuran, sedikit tips dari kami:

  • Pakaian jangan terlalu seksi, gunakan pakaian sewajarnya, karena pakaian seksi bisa memicu nafsu laki-laki yang melihatnya.
  • Jika menggunakan tas gemblok, gemblok tas didepan untuk melindungi area dada anda dari pelecehan.
  • Berdiri dengan posisi yang nyaman, jangan berdiri saling berhadapan, dan juga jangan berdiri membelakangi orang yang menghadap ke Anda. Sebisa mungkin jika menemukan posisi yang kurang nyaman, segera pindah atau memutar badan.
  • Apabila anda merasa ada tindakan pelecehan, segera teriak, penumpang dalam satu rangkaian sudah pasti langsung merespon teriakan anda. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan sanksi sosial kepada pelau pelecehan secara langsung dalam gerbong tersebut.

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. gerakan secara sengaja meraba area intim wanita, secara sengaja menggesekkan kemaluan ke badan wanita, ini jnuga merupakan tindakan pelecehan seksual.

Walau banyak testimoni negatif tentang KKW, namun keberadaan KKW juga masih dibutuhkan, jadi alangkah baiknya pro kontra KKW ini dihentikan, karena beda persepsi, beda cara pandang, dan beda penilaian, maka tidak akan pernah ketemu apa yang diinginkan. Kecuali adanya survey yang menyajikan data berapa penumpang wanita dan berapa banyak penumpang pria rata-rata sehari perjalanan dengan KRL, ini baru bisa dijadikan acuan mengambil keputusan, apakah akan menghapuskan KKW, menambahkan KKW, atau membiarkan seperti saat ini 2 KKW dirangkaian depan dan belakang.

 

 

Deddy Sopfyandi – Jalur Nambo

2 comments

  1. Saya sendiri pro terhadap KKW, tapi lbh karena bagus aja kalo dilihat dari luar, apalagi jika memakai stiker ungu dan pink seperti sebelum 2016

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *